Tuesday, May 16, 2006

Grey world!

"Putuskan dan jadilah kamu lelaki yang tegak dengan keputusan serta pilihanmu sendiri!" ujar ayah suatu hari.....terngiang terus dan semakin kuat gemanya ketika harus memutuskan sebuah pilihan. Dan alhasil keraguan berlarut-larut justru yang nyata terjadi...dan saya didalamnya.
Seperti saat ini dalam hidup pun saya masih dalam keabu-abuan..bukan sebuah hasil dari perjuangan idealisme yang selalu saya jalankan...
Malu dan berkhianat pada diri sendirilah saya sekarang....tapi ada banyak buah pikiran yang menjadikan saya seperti saat ini, sebuah pertarungan antara hasrat dan kehidupan....
Jadi dunia saya adalah dunia abu-abu dimana saya belum bisa membuka atau menyibak kabutnya menjadikan terang dan nyata....Kuatkah keinginan tersebut untuk menjadikan sebuah pilihan bisa ditegakan atas dasar idealisme saya....

Tuesday, March 07, 2006

Upacara

Ngaben atau Pelebon adalah ritual upacara bagi semua umat Hindu sebagai bagian dari sebuah perjalanan hidup dan keharusan karena manusia menurut Hindu berasal dari
5 unsur atau biasa disebut Panca Maha Bhuta.
Panca Maha Bhuta, adalah tanah (pertivvi), air (apah), api (teja), angin (bayu), and eter (akasa). Lima unsur pembentuk wujud dari manusia sebagai mahluk sempurna ciptaan-Nya, dan sebagai akhir dari semua ritula kehidupan seorang umat manusia yang memeluk agama Hindu, Ngaben adalah dan di ibaratkan sebagai puncak upacara terakhir dari kesemuanya, sehingga kadang-kadang membutuhkan sebuah dana yang cukup besar dan meriah.
Sejak dari dalam kandungan, lahir, remaja, dewasa dengan potong gigi dan menikah sampai akhirnya meninggal manusia Hindu sudah direpotkan dengan berbagai macam ritual keagamaan dan adat yang menyita waktu serta dana yang boleh dibilang tidak sedikit, akan tetapi semuanya dilakukan tanpa keluh kesah karena hidup bagi manusia Hindu adalah pengabdian.
Kami melakukannya tanpa beban dipundak, dan sayapun menikmatinya sebagai sebuah pengabdian kepada Hyang Widhi dan manusia serta mahluk-mahluk ciptaan-Nya yang lain...

Kehilangan...!

" Gede mai-mai dini, nini ngabe jaje es sareng nasi sela! "* Seruan kecil dari bibir keriput seorang nenek kepada cucunya, begitupun kepada semua cucunya. Ada saja buah tangan yang dibawanya sepulang dari pasar. Berangkat disaat kita semua cucunya terlelap dan kembali dengan sejuta kebahagian bagi cucunya di senja hari, begitulah keseharian nenek gue semasa beliau hidup.
Mungkin lebih dari 50 tahun berjualan dari satu pasar ke pasara lain, dan semuanya berbuah manis. Terutama bagi ayah gue yang sejak belia mengikuti beliau berjualan menyunggi keranjang sambil menggendong adiknya dan membantu orang lain juga demi upah agar bisa sekolah, dan hasilnya bisa gue rasakan sekarang ini.
Beliau juga berpesan " Ninik sing ade piss anggon mayah sekolah ..."** terpatri kata-katanya, tetapi dibalik kata-katanya beliau hanya punya semangat mendorong anak-anaknya maju.
Dan gue juga merasakannya, wah bangga gue punya nenek seperti beliau, bukan tokoh masyarakat, pahlawan nasional ataupun gelar apapun. Tapi semangatnya masih hidup sampai sekarang di relung terdalam anak-anaknya dan kami cucunya....

Selamat Tinggal Ninik...Gede ( cucucmu yang menyayangi mu)

" Gede mai-mai dini, nini ngabe jaje es sareng nasi sela! "* = " Gede kesini, Nenek bawa jajan es dan nasi campur ubi!"

" Ninik sing ade piss anggon mayah sekolah ..."** = " Nenek tidak punya uang buat bayar sekola..."


*

Bingung....!

Wah bingung nih mo nulis apaan. Sudah lama tidak melatih tangan dan mendera otak dengan ide-ide segar, menuangkannya dalam tulisan bahkan corat-coret disemua bidang kosong...mudah-mudahan nanti, esok, lusa bahakan entah kapan ....

Saturday, January 07, 2006

Marjinal...!

Marjinal asal kata margin atau tepatnya bagian pinggir, pinggiran. Tetapi orang lebih mengasumsikan dengan sebuak kelompok tingkat strata dalam masyarakat yang minim pendapatan, bagi gue marjinal lebih kesebuah bentuk pernyataan dari sebuah kehidupan nyata yang secara tidak langsung terbentuk oleh keangkuhan sebuah kuasa.
Bukan hanya orang-orang urban yang minim pendapatan dibilang marjinal, bukan pula buruh, pekerja kasar, jongos, atau apalah yang lebih menyiratkan kejauhan antara hiruk pikuk gemerlap modernisasi dengan kaum tadi.
Terasing, tersisih, terbuang, dan sebagainya adalah sebuah apresiasi rasa bagi kaum Marjinal, yang notabene masih merupakan bagian dari sebuah komunitas mahluk mulia di muka bumi.....MANUSIA! bukan ...BINATANG!

HOLA 2006 !

Tahun baru 2006, baru 7 hari gue lewatin. Tidak ada yang istimewa dari peralihan sampai hari ketuju di tahun baru ini. Hidup masih segini-gini aja, kerjaan lebih parah lagi tiada hasrat dan niat.
Ingin berubah dan masih berusaha, tapi minim kesempatan. Terberat hanya di tempat kerja percuma gue koar-koar ide toh tiada tanggapan, suka tidak suka atau masalah pribadi? susah gue menebaknya.
Entah kapan gue bisa bergerak memindahkan tudung gelap yang menaungi gue....semoga ada pencerahan nyata secepatnya.

Wednesday, December 07, 2005

We are The Art of GOD!

Cantik, Seksi, Tampan, Keren, Gendut, Kurus, Jelek bahkan cacat, banyak kata yang bisa mengapresiasikan karya cipta Maha agung dari Sang Pencipta. Ada yang memuji bahkan mencela cenderung mencela.
Pantaskah? sebuah hasil kreatif dari Penguasa jagad Raya dipertanyakan atau disangsikan? Kenapa begini atau begitu? Kok bisa ya? atau Tuhan sedang tidak mood membuat karyanya? atau bahkan Tuhan sedang dikejar tengat waktu?
Terlepas dari semua itu bersyukurlah, karena Tuhan masih menciptakan kita sebagai mahluk hidup.

Tuesday, December 06, 2005

Edukasi Kreatif!

" Jangan bikin AD kayak gitu, orang kita belum mengerti!" sekelumit ucapan klien disebuah presentasi rutin. Menghakimi atau sekedar berkelit dari ketidakterimaaan sebuah ide kreatif, atau bahkan memberi kesan orang kita , maksud gue orang Indonesia masih bodoh semua.
Banyak pendapat bilang wajar sekelumit kalimat tersebut meluncur dari mulut klien, dan tumbuh opini seperti diatas bagi semua orang kreatif. Tetapi mau sampai kapan terus menerus hal ini terlontar lagi.
Seorang manusia akan mengerti sebuah hal baru apabila dia bisa merasakan, meraba, melihat bahkan mendengar hal tersebut nyata. Jadi berikanlah sesuatu yang baru tanpa pikir panjang agar terlontar kata-kata " jelek, buruk, nggak ngerti, apaan nih..., bagus, keren!" . Otomatis sebuah interaksi yang indah bagian dari edukasi kreatif, yag akhirnya inisiatiflah yang harus dimulai. Karena mengerti, paham, peka harus dimulai secepatnya.
" HIDUP ORANG-ORANG KREATIF! "

Industri Kreatif atau Industri Tukang Jahit!

Mengutip opini di Concept 08,Djoko Hartanto, Adv. Dip.(Pendiri majalah Concept)
Membahas opininya membuat gue sebagai pekerja kreatif atau pekerja seni berpikir terus akankah bisa terwujud?
Sebuah angan-angan memajukan kreatif sebagai sebuah industri menjanjikan walapun kita adalah negara berkembang. Tetapi berkembang lambat bahkan cenderung menjadi kerdil di semua sektor.
Berharap pada negara seperti berharap pada peri dalam sebuah cerita-cerita dongeng, Industri kita masih berbasis OEM ( Original Equipment Manufacture ), dimana pemilik pabrik membuat barang kemudian menyetor ke pemilik Brand alias industri berbasis tukang jahit. Idealnya harusnya pemilik pabrik berusaha memiliki brand, tapi ini masih minim baik dari pengusaha maupun pemerintah. Dan anggapan industrialisasi dianggap sebagai pola pas dalam membangun ekonomi.
Pola ini masih relevan 20 tahun lalu . Polanya yang berbasis pada mass produksi membuat kita terjebak dalam over efesiensi, pengurangan biaya dan discount. Dan akhirnya membuat pola ekonomi banting harga seperti sekarang.
Alhasil paradigma inilah yang sekarang berlaku di Indonesia, berbeda dengan negara lain yang sudah memasuki sebuah paradigma baru dimana industri memasukan unsur kreatif, bahkan Inggris atupun tetangga kita Singapura sudah memasukkan industri kreatif sebagai salah satu sektor pendukung ekonomi negara mereka. Singkatnya Industri kreatif dapat memajukan sektor ekonomi juga.
Pertanyaan timbul apakah kita sebagai orang-orang kreatif mampu memutar balikan paradigma ini menjadi sebuah paradigma baru, sehingga kelesuan dunia kreatif kita menjadi sebuah cahaya terang bagi dunia kreatif dan negara secara umum.
Akhirnya hanya sebuah perjuangan merubah yang harus segera dimulai, hancurkan semua aral tembok penghalang kreatifitas. Hari ini, detik ini, saat gue menulis blog ini bahkan seterusnya. Perjuangan demi sebuah nama " KREATIFITAS TANPA BATAS! ", kreatifitas sebagai pekerja kreatif penyelaras ide, bukan kreatif telor ceplok atau tukang jahit.

Wednesday, November 30, 2005

katak dalam tempurung

Seperti peribahasa "katak dalam tempurung!", tiada jalan kecuali mengharap asa tanpa ujung. Sama seperti sosok orang kreatif yang dikerdilkan oleh kuasa -kuasa otoriter tanpa ujung.
Mau berontak, teriak ampe kudeta tiada daya lah wong hidupnya dari situ, terpaksa lah setengah hati dijalankan, alhasil demi sesuap nasilah dan survive yang membuat seperti ini, berharap dari sang pembimbing hanya seuntai kata " wah saya tidak tahu, kan kamu kreatifnya!".
Anjing bangsat! kapan yah gue bisa membalik tempurung ini tidak hanya lompat2 ditempat, trus menggeser saja tanpa melihat sebuah pencerahan. Mungkin hanya kesabaran, tetapi kesabaran akan ada batasnya saat perubahan diinginkan. Dan yang bisa merubah tiada lain hanya kita sendiri atau kudeta kalau perlu demi sebuah nama yang begitu berharga "KREATIFITAS".
Long life la Revolucionare!!!!

Thursday, June 30, 2005

Kerja keras or Sistem Kebut Semalem

03.00 WIB menjelang subuh setelah dilanda kepanikan demi mengejar sebuah perhelatan bernama Cithra Pariwara,
sebuah ajang besar bagi para insan periklanan.

Anjing apakah yang membuat ini semua adalah sebuah angka-angka buah manis kreatif yang menjadikan buah manis berupa angka2 gaji sehingga terlena olehnya...

Ahhh tapi sudahlah, hanya kemauan dan berjiwa penjudilah yang membuat kita berani menjalani siksa kreatif ini, berharap banyakpun tidak pesimis lebih2.

Yang akhirnya dari semua diatas menjadikan SKS sebuah kerja keras mulia demi sebuah pernghargaan, dari setiap penikmat iklan....Yang notabene kitapun para pelakunya kerap masih dianggap tidak kerja keras atau kurang kreatif